Syi’ah Indonesia siap debat

Tokoh Syi’ah Indonesia, Hasan Daliel al Aydrus, menyatakan, pihaknya siap duduk bersama satu meja dengan kalangan Ahlussunnah untuk memperdebatkan masalah Sunni dan Syi’ah.

“Sunni dan Syi’ah tidak ada masalah dalam ukhuwah Islamiyah. Kita siap duduk dengan siapa saja, kecuali dengan satu, yaitu kelompok takfir dan mereka yang suka membid’ahkan,” kata Hasan Daliel, kemarin.

Hasan Daliel menjadi Ketua Pengarah Acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ahlul Bait Indonesia V yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (2/4) hingga Minggu (4/4) lalu. Penolakan mewarnai acara itu. Aksi massa dari sejumlah organisasi Islam menuntut acara tersebut dibubarkan. Tetapi panitia mengabaikannya dan acara berlangsung hingga akhir.

Koordinator massa penolak acara Silatnas, Ustadz Farid Ahmad Okbah, mengatakan, acara tersebut ilegal karena tidak mendapatkan izin dari Markas Besar Kepolisian Indonesia. Padahal, kata Farid, acara tingkat nasional harus mendapatkan izin dari Mabes Polri.

Dalam kesempatan tersebut, Farid juga menyatakan pentingnya digelar debat antara Ahlussunnah dan Syi’ah dalam rangka memberi keterangan yang jelas kepada umat tentang apa dan bagaimana gerakan Syi’ah. Dia meminta debat tersebut dilakukan secara terbatas, tidak diadakan terbuka di depan umum. Farid menginginkan debat dilakukan di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya, pembahasan tentang hakikat ajaran Syi’ah �yang dalam acara Silatnas disebut Ahlul Bait� memerlukan rujukan kitab-kitab induk ajaran Syi’ah asli.

“Dalam kitab-kitab asli rujukan mereka itulah terdapat ajaran mereka yang sesungguhnya. Ada yang mengafirkan para sahabat Rasulullah, hujatan terhadap istri-istri Rasulullah, juga tentang perbedaan rukun Islam dan rukun iman antara Sunni dan Syi’ah,” kata Farid dalam keterangannya kepada wartawan.

Menurutnya, Ahlul Bait yang dimaksud pada Silatnas Ahlul Bait Indonesia V adalah para pengikut ajaran Syi’ah yang berpusat di Iran. Sedangkan, lanjut Farid, sudah ada kesepakatan dunia Islam, bahwa Syi’ah tidak boleh berdakwan di daerah Sunni, begitu pula sebaliknya.

“Kalau mereka dakwah kepada orang Hindu, Budha, Kristen, tidak masalah. Tapi jangan kepada Ahlussunnah. Ini negeri Ahlussunnah,” kata pimpinan Pesantren Tinggi Al-Islam, Bekasi ini.

Namun, menurut Hasan Daliel, selama ini sebenarnya kelompok Syi’ah dan Sunni di Indonesia tidak ada masalah dalam lingkup ukhuwah Islamiyah, tidak ada masalah kaum muslimin untuk duduk bersama. Ia justru khawatir gerakan Ahlul Bait Indonesia telah disusupi gerakan Zionisme untuk menghancurkan ukhuwah Islamiyah.

“Eropa bersatu, mata uang mereka bersatu. Sedangkan umat Islam diserang dari segala sisi dan terencana. Tapi kita umat Islam masih saja saling perang,” ujarnya.


Jadi ormas

Sementara itu, melalui rapat komisi yang berjalan cukup alot, akhirnya peserta Silatnas Ahlul Bait Indonesia V memutuskan mengubah status Ahlul Bait Indonesia menjadi organisasi masyarakat (ormas). Sementara ini nama yang digunakan adalah Fitrah.

Sebagaimana dilansir laman resmi Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) Regional Indonesia, acara tersebut juga memutuskan diberlakukannya khumus, yakni lembaga yang berfungsi menangani dana khumus (pungutan) bagi para pengikut Ahlul Bait dan mendistribusikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Menurut ajaran Ahlul Bait, orang-orang yang mampu harus menyisihkan dana sebesar 20 persen, setelah dipotong kebutuhan selama satu tahun. Dana ini disebut dengan istilah khumus.

No Response to "Syi’ah Indonesia siap debat"

Posting Komentar

 
powered by Blogger