Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa

SEBUAH rapat digelar tiba-tiba di sebuah ruang di lantai tiga Gedung E, Departemen Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Berlangsung Selasa sore pekan lalu, pertemuan itu dihadiri pucuk pimpinan dari beragam institusi pemerintahan di bidang keuangan dan perbankan. Mereka mendadak bertemu karena indeks harga saham gabungan di lantai Bursa Efek Indonesia kelojotan.

Situasi di bursa saat itu memang bikin geger. Indeks saham terjun bebas 191,36 poin (7,7 persen) dari hari sebelumnya, sebelum ditutup pada posisi 2.294,52. Nilai kapitalisasinya tergerus Rp 136 triliun. Inilah nilai penurunan terbesar dalam lima tahun terakhir.

Padahal, tiga pekan sebelumnya, indeks sempat menyentuh posisi 2.830. Namun, krisis kredit hipotek perumahan dan ancaman resesi di Negara Abang Sam tak kenal belas kasihan. Dari jantung kapitalisme di Amerika, gelombang kejutnya menggerogoti indeks bursa di Eropa dan Asia—hingga terasa ke lantai bursa di kawasan Sudirman, Jakarta. Fluktuasi yang tinggi itu bukan tidak mungkin menciptakan guncangan yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.

Itu sebabnya para menteri ekonomi sampai membatalkan rapat privatisasi badan usaha milik negara yang sebelumnya sudah diagendakan. Menteri Koordinator Perekonomian Boediono dan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil—atas inisiatif Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati—memilih menghadiri rapat dengan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah dan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Ahmad Fuad Rahmany.

Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah juga hadir dalam pertemuan itu. Ia ditemani dua Deputi Gubernur BI, Budi Mulya dan Muliaman D. Hadad, serta Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah. ”Rapat itu untuk menyiapkan langkah koordinasi antarotoritas keuangan,” kata Raden Pardede, Ketua Forum Stabilisasi Sektor Keuangan, salah satu peserta rapat.

Sumber Tempo mengatakan, Menteri Sri Mulyani bahkan meminta agar setiap menteri ekonomi dibekali satu telepon seluler tersendiri yang mudah dihubungi demi memudahkan koordinasi dari ancaman resesi Amerika itu. ”Ponsel itu harus dihidupkan selama 24 jam,” kata sumber Tempo. ”Ini semacam saluran khusus bila terjadi apa-apa.”

Sedemikian seriuskah krisis yang bakal mendera? Itu semua tergantung seberapa cepat dampak krisis Amerika itu merangsek ke Indonesia dan seberapa lama krisis itu bakal berlangsung. Masalahnya, kata Raden, sulit memprediksi kapan kondisi akut perekonomian Amerika itu berakhir.

Itu sebabnya, pemerintah akan memperketat pengawasan di sektor keuangan dan perbankan. Dalam rapat selama hampir dua jam itu, pemerintah juga menyiapkan beberapa langkah pencegahan agar krisis di lantai bursa tidak menjalar ke mana-mana. ”Kami menyiapkan rencana darurat untuk menghadapi kemungkinan paling buruk,” kata Raden menambahkan. Seperti apa langkah darurat itu, ia belum mau bercerita banyak.

Yang pasti, langkah itu disiapkan agar pemerintah tidak kelimpungan bila efek domino dari ancaman resesi Amerika benar-benar mendera. Pemerintah tampaknya tidak ingin tergelincir dua kali, seperti ketika krisis ekonomi menghunjam pada 1997. ”Kita harus tetap waspada,” kata Raden. ”Jangan sampai baru sadar ketika krisis sudah terjadi dan tidak tahu lagi harus berbuat apa.”

Hasil rapat itu kemudian disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat para menteri ekonomi dipanggil ke Istana Negara keesokan harinya. Setelah bertemu Presiden, Boediono berjanji pemerintah akan memperkokoh ekonomi dalam negeri. ”Supaya tidak rubuh kalau badai krisis datang,” katanya.

Untungnya kepanikan mereda karena bank sentral Amerika (The Federal Reserve) menurunkan suku bunga hingga 75 basis poin—tertinggi sejak peristiwa 9/11 enam tahun lalu—menjadi 3,5 persen. Langkah ini ditempuh setelah pelaku pasar tidak percaya kebijakan Presiden George W. Bush menyuntikkan US$ 150 miliar bisa menjadi obat pemulihan ekonomi negara itu.

Terbukti, penurunan suku bunga itu bisa meniupkan angin segar. Indeks Bursa Indonesia terkerek 7,92 persen pada Rabu lalu. Dua hari kemudian indeks ditutup pada posisi 2.620,493. Adapun perdagangan rupiah ditutup pada level Rp 9.330 per dolar Amerika—menguat 140 poin sejak bursa ambruk.

Pemerintah, pelaku usaha, dan investor bernapas lega—meski rasa waswas tetap ada.

l l l

KRISIS kredit hipotek perumahan di Amerika mencuat sejak pertengahan tahun lalu. Total kapitalisasi surat utang di pasar perumahan itu, menurut Mortgage Bankers Association di Washington, mencapai US$ 6 triliun (Rp 56.400 triliun dengan kurs 9.400).

Selangitnya nilai transaksi dipicu jorjorannya pasar properti Amerika sejak enam tahun lalu. Mereka menawarkan rumah beserta kreditnya dengan harga miring. Ini dipicu oleh rendahnya tingkat suku bunga, yang tiga tahun lalu pernah bertengger di angka 1 persen—terendah dalam 45 tahun terakhir.

Tak mengherankan bila pada saat bersamaan lembaga pengelola dana yang berinvestasi di pasar properti bak cendawan di musim hujan. Lowongan pekerjaan di sektor ini bertaburan. Namun, masa-masa emas itu surut setelah Juni 2004. The Fed, sebutan bank sentral Amerika, secara bertahap menaikkan suku bunga 25 basis poin. Pertengahan tahun lalu suku bunga The Fed nangkring di posisi 5,25 persen.

Itu memicu bunga kredit sektor perumahan jadi terkerek. Pasar pun lesu. Puncaknya, akhir Juli tahun lalu investor berbondong-bondong menyetop pembelian properti yang dikemas lewat kredit. ”Pinjaman yang tak laku membuat lembaga pengelola dana kesulitan,” kata Andy Roach, bekas manajer Capital One, salah satu lembaga pengelola dana di wilayah Chicago.

Situasi kian amburadul gara-gara melonjaknya bunga kredit mendorong tingginya tingkat gagal bayar oleh debitor. Gonjang-ganjing kredit macet itu, selain membuat pasar finansial global kelojotan, tapi juga menyuguhkan PHK massal.

Pemutusan hubungan kerja diumumkan hampir setiap hari. Countrywide Financial Corporation, pemberi kredit hipotek terbesar di Amerika, misalnya, merumahkan 12 ribu pekerjanya. Keputusan yang sama diambil Citigroup Incorporated, Merrill Lynch, Lehman Brothers Holding Incorporated, First National Bank Holding Co., HSBC, Home Lenders Holding Co., Scottsdale, dan IndyMac Bancorp Inc.

Pemberhentian karyawan ini menambah panjang daftar pengangguran yang terjadi. Krisis kredit perumahan yang terburuk sejak 17 tahun terakhir itu membuat pengangguran di Negeri Abang Sam menembus 5 persen pada akhir 2007.

Upaya The Fed dua kali menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen sejak pertengahan tahun lalu tak mampu meredam kekhawatiran pasar akan ancaman resesi Amerika.

Yang terjadi, pasar keuangan global kian loyo setelah dua pekan lalu Merrill Lynch, perusahaan efek terbesar di dunia, dan bank raksasa Amerika Citigroup mengumumkan kerugian kuartal keempat 2007. Dua perusahaan itu masing-masing merugi US$ 9,8 miliar (Rp 94 triliun). Kapitalisasi pasar Citigroup bahkan anjlok US$ 50 miliar.

Situasi itu kembali menimbulkan kepanikan pelaku pasar. Mereka lalu menjual saham besar-besaran. Aksi itu menjalar ke mana-mana. Indeks di berbagai penjuru dunia pun berguguran, yang mencapai puncaknya Selasa pekan lalu.

Di Indonesia, koreksi pasar modal diperparah oleh aksi short selling dan forced selling. Short selling adalah aksi menjual di muka pada harga lebih tinggi tanpa harus memiliki saham terlebih dahulu. Saham tersebut selanjutnya dibeli kembali oleh investor dengan harga yang lebih rendah. Bila dilakukan dalam jumlah besar, aksi itu berpotensi menekan indeks.

Tak cuma itu. Kebanyakan investor lokal juga bermain saham dengan pola margin trading. Dengan cara ini, melalui pinjaman dari perusahaan sekuritas, investor bisa mengoleksi saham melebihi modal yang dimiliki. Nah, ketika harga saham turun seperti kemarin, investor wajib menyetor dana tambahan ke perusahaan sekuritas (margin call). Bila tidak, perusahaan sekuritas bisa menjual paksa (forced selling) saham investor yang dijaminkan kepadanya.

Atas maraknya aksi itu, Fuad Rahmany berjanji akan memperketat fasilitas margin trading. Perusahaan sekuritas, kata Fuad, hanya diperbolehkan memberikan pinjaman 100 persen dari modal yang dimiliki investor. ”Yang melanggar akan dikenai sanksi,” katanya. Ini untuk mendisiplinkan pasar dari praktek short selling dan margin trading yang kebablasan. Selama ini, investor bisa mendapatkan pinjaman hingga tiga kali lipat dari modal yang dimiliki.

l l l

YANG kini menjadi tanda tanya khalayak, seberapa kokoh fondasi ekonomi Indonesia menghadapi ancaman resesi Amerika? Apalagi langkah penurunan suku bunga yang diambil The Fed itu, kata Kepala Ekonomi Citibank Indonesia Anton Gunawan, tidak cukup untuk membantu pemulihan ekonomi negara itu.

Penurunan itu malah bisa dibilang agak terlambat. ”Mestinya suku bunga diturunkan bulan lalu,” katanya. Anton menaksir pertumbuhan ekonomi Amerika pada kuartal pertama ini minus 0,7 persen.

Perlambatan ekonomi Amerika itu diperkirakan akan membuat The Fed menurunkan suku bunga 50 basis poin pada Rabu ini dan akhir kuartal semester kedua, sehingga suku bunga hanya 2,5 persen.

Dengan begitu, perlambatan ekonomi yang terjadi hingga akhir tahun diharapkan bisa pulih pada kuartal pertama tahun depan. Menurut proyeksi Citigroup, pertumbuhan Amerika akhir 2008 sekitar 1,5–1,6 persen dan naik menjadi 2,4–2,5 persen pada kuartal pertama 2009.

Meski ketidakpastian ekonomi Amerika berlanjut, Boediono optimistis ekonomi Indonesia mampu bertahan dari terpaan. Strateginya dengan menyeimbangkan pengeluaran dan penerimaan demi mengamankan anggaran.

Cara pengamanan itu juga akan ditempuh dengan meminta setiap departemen memotong 15 persen dari nilai anggaran. ”Karena banyak anggaran yang tidak masuk akal,” kata sumber Tempo. Permintaan ini disampaikan Menteri Sri Mulyani saat melakukan rapat koordinasi dengan Kepala BPS dan sembilan menteri lainnya di Kementerian Koordinator Perekonomian pekan lalu.

Senada dengan Boediono, Raden Pardede tak yakin gejolak di Amerika menimbulkan riak besar bagi Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah sektor keuangan yang menurut dia jauh lebih baik. ”Permodalan perbankan kuat. Rasio kredit bermasalah menurun,” katanya. Itu semua ditopang regulasi yang lebih prudent.

Risiko utang luar negeri pemerintah dan swasta pun tidak membahayakan. Total utang tahun ini, kata Raden, diperkirakan hanya sekitar 33-34 persen terhadap PDB. Bandingkan dengan saat krisis besar 1997 yang menembus 120 persen terhadap PDB.

Jadi, kalaupun dampak resesi nanti sampai di Indonesia, menurut Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian M. Ikhsan, pengaruhnya tidak terlalu besar. ”Hanya menurunkan 0,2 persen pertumbuhan,” katanya. Kegiatan ekspor (kotor) Indonesia yang hanya sekitar 30 persen dari produk domestik bruto juga tidak akan sempoyongan, karena ekspor Indonesia tidak lagi bertumpu pada satu produk dan negara tertentu.

Kalaupun warga Amerika menekan konsumsi, itu hanya terjadi pada barang elektronik berteknologi tinggi yang diimpor dari Korea dan Taiwan. Sedangkan yang diekspor Indonesia bukan elektronik berteknologi tinggi. ”Sehingga dampak buat ekspor Indonesia tidak besar,” kata Anton.

Meski begitu ia menilai pertumbuhan 6,8 persen yang ditargetkan pemerintah sulit tercapai. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata dia, berkisar 6,2 persen dengan tingkat inflasi 6,7–6,8 persen. Angka itu bisa tercapai bila pekerjaan rumah alias PR pemerintah yang tertunda—seperti paket kebijakan investasi dan infrastruktur—segera diselesaikan.

Itu pun dengan catatan, BI harus menjaga kurs agar tidak di atas Rp 9.400 per dolar. Bila kurs tidak terjaga, efek inflasi akan merembet ke penurunan konsumsi yang ujungnya memperlambat pertumbuhan.

Faktor lain yang perlu diwaspadai adalah kepemilikan asing (per November) di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp 219,7 triliun dan Surat Utang Negara (SUN) Rp 803,19 triliun. Portofolio ini belum termasuk saham yang kapitalisasi pasarnya Rp 1.844 triliun per Kamis pekan lalu.

Masalahnya, Anton memperkirakan, volatilitas bursa—yang indeksnya ditaksir bisa mencapai 3.100—akan sangat rentan sepanjang tahun ini. Tersentil sedikit oleh sentimen negatif, rentang fluktuasi harga akan bertambah lebar dan arah pergerakan pasar makin tidak menentu.

Imbasnya, dana milik asing yang berlimpah itu bisa kabur dari Indonesia. Kalau sudah begitu, ekonomi Indonesia dipastikan bakal terguncang karena dana yang keluar tidak seimbang dengan cadangan devisa Indonesia yang ”cuma” US$ 56,9 miliar.

Yandhrie Arvian

Terburuk Pasca-Perang Dunia

LUAR biasa dahsyat dampak krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) tahun lalu. Kredit macet itu tidak hanya merontokkan sektor keuangan Amerika Serikat, tapi juga mencetak ribuan penganggur baru dan mengantarkan ekonomi negeri itu ke jurang resesi.

Bukan hanya itu. Kredit macet itu sudah memakan korban baru. Selasa pekan lalu, seluruh bursa dunia rontok. Pelaku pasar khawatir paket pemulihan Presiden George W. Bush senilai US$ 145 miliar tak mampu mengobati kerusakan jantung ekonomi dunia itu. Malah dikhawatirkan krisis merembet ke bagian dunia yang lain. Apalagi, menurut pialang terkemuka George Soros, krisis ini terburuk setelah Perang Dunia II.

Heri Susanto, Indra Mutiara

Korban Berjatuhan

Krisis kredit macet perumahan telah meruntuhkan kejayaan para raksasa keuangan dunia. Tengok saja korban berikut ini

Citigroup
Rugi US$ 9,83 miliar, hapus buku kredit US$ 18,1 miliar, memangkas 4.200 karyawan.

Merrill Lynch
Rugi US$ 9,8 miliar, hapus buku kredit US$ 15 miliar, 1.600 karyawan dipecat.

Bank of America
Laba anjlok tinggal US$ 268 juta, hapus buku kredit US$ 5,28 miliar, 1.150 karyawan dipecat.

Wachovia
Laba anjlok tinggal US$ 51 juta, hapus buku US$ 1,7 miliar.

JP Morgan Chase
Laba turun 34 persen menjadi US$ 2,97 miliar, memangkas 100 orang karyawan.

Sejarah Berulang

1929
”Black Tuesday” menyerang bursa saham New York pada 29 Oktober 1929. Bursa kolaps dipicu oleh ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi masyarakat AS. Krisis begitu parah dan lama sehingga banyak pabrik, toko, dan bank tutup. Masyarakat kehilangan tabungan dan tempat tinggal. Pada 1932, seperempat penduduk AS menganggur. Resesi baru berakhir pada 1941, saat Amerika mulai terlibat Perang Dunia II.

1980
Krisis energi pada akhir 1970-an telah meruntuhkan ekonomi AS. Beberapa industri utama, seperti perumahan, manufaktur, dan otomotif, terpuruk bertahun-tahun. Inflasi menembus 10,3 persen dan pengangguran di atas 10 persen pada 1981. Untuk meredamnya, pemerintah memangkas pajak dan Federal Reserve menaikkan suku bunga.

2001
Dipicu oleh ambruknya saham-saham perusahaan dotcom (teknologi informasi) serta serangan teroris ke gedung World Trade Center pada 11 September 2001, ekonomi AS terguncang. Ketika itu, ekonomi melambat hingga di kisaran nol persen. Pengangguran melonjak ke 5,4 persen gara-gara perusahaan raksasa, seperti Lucent, Motorola, dan Hewlett-Packard, memecat puluhan ribu karyawan. Agar tak terjun ke jurang resesi, bank sentral AS memangkas suku bunga paling agresif sepanjang 17 tahun.




MENANTI KEHANCURAN AMERIKA DAN EROPA

Sebuah buku spektakuler tentang analisa kehancuran Amerika dan Eropa di akhir zaman dari berbagai sudut pandang : empiris, historis, sosial, ekonomi, dan nubuwah akhir zaman.

Di saat Uni Soviet yang mengusung komunisme tumbang, Perang Dingin berakhir, maka Amerika tampil sebagai negara super power yang menentukan hitam putihnya dunia. Di saat sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalisme diterima oleh lebih dari 90 % negara di dunia. Di saat 95 % negara anggota PBB mendukung Amerika dan sekutunya dalam memerangi Islam dan kaum muslimin melalui sandi operasi ‘perang global melawan terorisme’. Di saat Amerika dan sekutu-sekutunya melanggar aturan internasional, dan melakukan invasi militer kepada dua negara yang paling miskin dan lemah di dunia, Afghanistan dan Irak, tanpa ada satu negara pun yang mampu mencegah dan menghukumnya. Di saat Amerika Serikat terus memimpin sekutu-sekutunya dari Eropa Barat, Australia, Jepang, dan Korea Selatan untuk menuruti semua kehendaknya. Di saat Amerika telah menjelma bagaikan bangsa Mesir pada zaman Fir’aun, yang menginginkan bangsa-bangsa lain menghamba kepada mereka, mengikuti agama mereka, menyembah thagut, dengan cara memeras, menakut-nakuti, menyiksa, bahkan melenyapkan mereka. Di saat Amerika tampil mengangkangi segala negara dan lembaga di dunia, tak terkecuali PBB, yang dengan leluasanya Amerika bisa berbuat semaunya tanpa ada seorang pun dan sebuah negara pun yang bisa mencegah dan menghukumnya. Di saat seluruh dunia menerima klaim Amerika sebagai pusat peradaban, ekonomi, penegakan HAM, Demokrasi dan standar tunggal gaya hidup manusia. Di saat Amerika menjadi tolok ukur dalam seluruh makna keberhasilan dan kesuksesan hidup manusia.

Bisakah Anda mempercayai penjelasan orang yang menyatakan bahwa Amerika dan sekutunya tengah berada di ambang keruntuhannya? Dapatkah Anda membenarkan klaim yang menyatakan bahwa negeri itu tengah di ujung jurang kebinasaannya? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah para tokoh politik, ekonomi, budaya dan cendekiawan Amerika dan Eropa sendiri? Bagaimana jika yang menjelaskannya adalah para ilmuwan dan ulama muslim? Bahkan, ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih?

Amerika adalah sebuah negara adidaya yang ekonominya 100 % berbasis sistem ribawiyah-spekulatif (Kapitalisme) dan merupakan penghela utama peradaban Barat-modern. Banyak sekali orang yang tersihir oleh kehebatan teknologi negeri itu, terpesona oleh kekayaannya yang luar biasa, sehingga sama sekali tidak mengira bahwa sebenarnya negara adidaya itu tengah memasuki hari-hari terakhirnya, insya Allah. Buku ini mengungkapkan kenyataan sebenarnya yang tengah dihadapi negeri adidaya itu. Seluruh persyaratan untuk terjadinya sebuah kehancuran total telah terpenuhi oleh negeri ini; ekonomi, politik, militer, sosial, demografi, moralitas, termasuk nubuwat akhir zaman.

Dari sisi ekonomi, negeri produsen dolar ini telah berubah dari lintah darat menjadi korban lintah darat terbesar di dunia sejak pertengahan tahun 1986 – dimulai pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagen. Perubahan status ini bermula dari pengeluaran anggaran yang luar biasa besar bagi pembiayaan Proyek Perang Bintang (Strategic Defense Initiative) dan Kampanye Penghancuran Uni Soviet. Uni Soviet memang akhirnya hancur, akan tetapi dengan ongkos yang membuat Amerika sendiri menjadi limbung dan menuju status sekarat! Utang total pemerintah Amerika bertambah praktis secara eksponensial, dan per April 2007, utang tersebut telah melewati US$ 8,9 trilyun (ikuti terus statusnya pada situs “US National Debt Clock”) dan terus bertambah dengan besarnya bunga yang harus dibayar setiap tahun melewati angka US$ 300 milyar yang nilainya semakin bertambah pula seiring dengan semakin meningkatnya utang pokok dan suku bunga pinjaman.

Dengan akumulasi utang bangsa Amerika per 2007 (jumlah utang pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan rumah tangga) sebesar lebih kurang US$ 48 trilyun (dengan kurs 1 US$ = Rp. 9000,- nilainya akan setara dengan kira-kira Rp. 432.000 trilyun, baca: empat ratus tiga puluh dua ribu trilyun rupiah!), secara teoritis, jika Bank Sentral Jepang dan atau Cina dan atau sejumlah investor lainnya (cukup salah satu saja yang beraksi, lainnya akan segera mengikuti) memutuskan menarik seluruh investasinya keluar Amerika, maka akan terjadi suatu gempa moneter yang luar biasa hebat, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia, di Amerika dengan episentrumnya terletak pada dua tanduk syaitannya, yaitu bursa saham dan pasar uangnya. Gempa moneter raksasa ini selanjutnya akan menimbulkan gelombang tsunami moneter yang luar biasa dahsyat yang menjalar ke seluruh penjuru dunia!

Banyak analisa para pakar ekonomi yang telah meramalkan kehancuran Amerika dari sudut pandang ini. Pada 23 Januari 2005, Jas Jain, salah seorang analis ekonomi terkemuka telah menulis, “Depresi yang lebih Besar (Greater Depression) adalah tak terhindarkan. Semakin tinggi kita mendaki tangga utang, semakin dalam ekonomi Amerika akan jatuh selama Depresi yang lebih Besar yang akan datang.

Pada Maret 2005, Stephen Roach, seorang kepala ahli ekonomi pada lembaga keuangan Morgan Stanley di Boston mengatakan, bahwa ia percaya peluangnya adalah 90% (yang menunjukkan sudah sangat dekat kepada kepastian!) bahwa utang yang gila-gilaan ini pada akhirnya akan membawa pada kehancuran ekonomi!

Pada 24 September 2005, Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika, mengungkapkan kepada sejawatnya Thierry Breton, Menteri Keuangan Perancis, bahwa Amerika Serikat telah kehilangan kendali atas defisit anggarannya. Selanjutnya Breton berkata, “Situasi yang menciptakan tekanan saat ini pada pasar uang adalah jelas defisit Amerika.” Ia juga mengungkapkan, “Nampak bagi saya bahwa sejawat saya John Snow (Menteri Keuangan Amerika, penj.) sepenuhnya sadar akan hal ini, ia ingin mengatasi masalah ini, tetapi nampaknya ia tidak mempunyai ruang yang cukup untuk bermanuver.”

Dari sisi politik dan militer, kehancuran Amerika juga tinggal menunggu waktu. Perang yang dikobarkan oleh Amerika di negeri-negeri muslim telah mendapat kecaman internasional dan kerugian yang cukup besar. Hingga awal 2007, perang Irak dan Afganistan telah merenggut nyawa lebih dari 4000 orang tentara Amerika, dan lebih dari 50.000 tentara mengalami cedera. Semula Departemen Pertahanan Amerika, Pentagon, berusaha mengecilkan jumlah prajurit yang cedera menjadi 24.000 orang. Akan tetapi Dr. Linda Bilmes telah mengejutkan publik Amerika dengan membocorkan angka yang sebenarnya, yaitu berkisar 50.000 prajurit yang membuat Pentagon kebakaran jenggot. Angka ini tidak dapat disanggah oleh Pentagon karena dikutip oleh Dr. Bilmes dari Departemen Urusan Veteran Amerika yang terbebas dari pengaruh Pentagon. Sejauh ini lebih dari 200.000 veteran telah dilayani di VA centers (Pusat-pusat Urusan Veteran), dan terdapat antrian klaim pelayanan medis dari 400.000 veteran. Jumlah klaim diperkirakan akan mencapai 874.000 pada 2007, dan 930.000 pada 2008.39 Dari total prajurit yang cedera, sekitar 50% mengalami cacat permanen yang membuatnya tidak dapat bertugas kembali sehingga setara dengan kematian. Celakanya, tentara yang cacat ini malah membebani pemerintah Amerika dengan biaya perawatan seumur hidup yang jauh lebih besar dari pada kompensasi bagi keluarga prajurit yang tewas. Sebagai contoh, keluarga dari seorang prajurit yang tewas akan mendapatkan bantuan sebesar US$ 500.000, sedangkan seorang prajurit yang menderita cedera permanen di otaknya akan memerlukan biaya perawatan sekitar US$ 4 juta..

Faktor penting lainnya yang juga menambah/mempercepat kemungkinan kehancuran Amerika adalah datangnya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti angin topan yang menghantam kota New Orleans yang terletak di wilayah Teluk Meksiko pada akhir Agustus 2005. Bencana tersebut telah membuat Kongres Amerika segera meluluskan permintaan bantuan sebesar US$ 10 milyar sebagai uang muka, sementara sebuah perkiraan telah menyebutkan bahwa dibutuhkan dana sebesar US$ 200 milyar guna merestorasi semua kerusakan, suatu nilai yang setara dengan perang selama empat tahun di Irak dan Afganistan.

Belum genap sebulan setelah bencana alam akibat angin topan yang demikian merusak tersebut, datang lagi angin topan kedua yang menghantam wilayah yang sama, yang menimbulkan kerusakan dan banjir secara meluas. Belum genap sebulan setelah topan kedua, datang lagi topan ketiga. Barangkali saja sudah menunggu angin-angin topan lainnya yang akan terus menghantam daratan Amerika.

Rentetan bencana tersebut telah menghancurkan sebagian infrastuktur energi Amerika; 108 anjungan pengeboran minyak rusak dan tidak mungkin dibangun kembali, demikian juga kerusakan pada sarana penyulingan minyak yang menurunkan kapasitas operasinya menjadi 70%. Bencana tersebut juga telah mengakibatkan 363.000 orang menjadi penganggur, dan menimbulkan gelombang kebangkrutan yang masif.

Jika pandangan suram tentang masa depan Amerika di atas semata-mata dari sisi ekonomi, maka pandangan suram dari sisi sosial budayanya tercermin dari kutipan berikut ini,

“Gambaran suram masyarakat Amerika dilukiskan oleh Alistair Cooke, penyiar veteran kelahiran Inggris, yang tinggal di AS selama bertahun-tahun. Masalah Amerika baginya semata-mata merupakan pembusukan moral: ‘Tingkat kejahatan di kota secara teratur melampaui semuanya. selain tahun sebelumnya yang paling buruk, dan kejahatan di jalanan secara acak di waktu malam menandingi peristiwa menonjol dalam buku harian abad kedelapan belas. Obat terlarang adalah hama yang menyerang semua kelas dari segala usia. Kita baru saja tersadar untuk mendapatkan bahwa sudah lama sekali, mungkin beberapa puluh tahun, pendidikan umum di Amerika telah menetapkan standar yang mudah dan membingungkan, sehingga, paling tidak dalam minoritas besar, mungkin mayoritas, tamatan sekolah menengah, kalau dibandingkan dengan sesamanya dari Eropa dan Asia, hanya setengah melek huruf.’

Alistair Cooke memerhatikan gejala lain dari keruntuhan budaya: penyalahgunaan kebebasan, kegagalan pengadilan menetapkan dan mengekang perbuatan tidak senonoh, kemerosotan tajam dalam sikap umum, dan lain-lain. Dia menyimpulkan bahwa akan ada titik balik sejarah yang besar, suatu akibat dramatis seperti Perang Saudara Amerika kedua, datangnya seorang diktator populis, atau kembalinya secara darurat ke bentuk sosialisme nasional yang menguntungkan ciptaan Franklin Roosevelt dalam New Deal pertama (kebijakan Presiden Roosevelt untuk mengatasi Depresi Besar pada 1930-an, penj.)”

Itu adalah komentar dari seorang yang hidup pada dekade 1990-an di Amerika. Sekarang tentu keadaannya sudah jauh lebih buruk lagi. Maka lengkap sudah semua syarat kehancuran Amerika: kemerosotan secara cepat dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Dengan memerhatikan segenap tanda-tandanya, puncak musibah (baca: azab) yang mirip dengan Depresi Besar 1930 insya Allah akan terjadi lagi. Sebuah makalah dengan judul TOO

Jika segenap penyebab di atas belum memadai untuk membawa Amerika kepada kehancurannya, maka skenario berikut dapat menjadi skenario pamungkasnya. Sebagaimana dikemukakan banyak pengamat dari kalangan akademisi maupun lembaga penelitian lainnya, baik mewakili institusi maupun perorangan, kehancuran ekonomi Amerika yang dipicu oleh kehancuran pasar saham dapat terjadi akibat adanya perubahan pada struktur demografi masyarakat Amerika dikaitkan dengan sistem pensiun para pekerja. Bahkan tokoh “resmi” semacam Dr. Alan Greespan. yang menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika, telah menyatakan keprihatinannya yang mendalam akan persoalan ini dalam pidatonya pada 2 Desember 2005 mengenai kebijakan anggaran Amerika.

Data demografi Amerika menunjukkan, bahwa lebih dari 76 juta orang Amerika lahir antara 1946 dan 1964, yang oleh para ahli sosiologi disebut sebagai generasi “baby boomers” (bayi-bayi yang lahir pada era ledakan kelahiran pasca PD II). Para “baby boomers” itu kini berusia antara 43 dan 61 tahun. Mereka inilah yang membanjiri pasar kerja pada era 1970-an. Kemudian sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an, mereka ini pula yang banyak menanamkan investasinya di bursa saham.

Dalam beberapa tahun mendatang, generasi “baby boomers” ini akan mulai memasuki masa pensiun, sehingga mereka akan mulai mencairkan dana-dana pensiun mereka, yang berarti menutup investasi mereka di reksa dana, dan menyimpan dalam bentuk tabungan di bank. Bahayanya terletak pada kenyataan bahwa generasi “baby boomers” ini adalah kelompok populasi yang paling besar dan paling kaya di Amerika, sementara generasi berikutnya, yang berpotensi menggantikan generasi “baby boomers” sebagai investor di bursa saham, mempunyai jumlah yang lebih kecil dengan tingkat kekayaan yang lebih rendah. Lebih memperburuk keadaan adalah adanya “cacat” pada peraturan sistem dana pensiun Employment Retirement Income Security Act - ERISA, di mana setiap pensiunan yang telah menginjak usia 70 tahun “diwajibkan” mulai menarik dananya dari pasar saham, dengan cara menjual sahamnya setiap bulan.

Maka secara teoritis, mulai 2008 orang akan menyaksikan kecenderungan terjadinya lebih banyak transaksi menjual daripada membeli saham dan semakin bertambah nyata pada tahun-tahun berikutnya. Selang beberapa waktu kemudian orang akan memerhatikan bahwa indeks harga saham tidak akan bisa naik lebih jauh lagi, bahkan cenderung terus tertekan, akibat kecenderungan menjual saham lebih banyak daripada membeli. Lalu begitu tersadar, orang-orang akan berduyun-duyun menjual sahamnya.

Persoalannya, sebagaimana juga di negara-negara lain, bagian terbesar dari masyarakat Amerika adalah warga yang dididik untuk menjadi pekerja, bukan pengusaha. Para pekerja itu tetap saja merupakan orang-orang yang awam dalam bidang investasi di bursa saham. Sebagaimana orang awam lainnya, tindakan mereka sering bersifat emosional, “ikut-ikutan.” Jadi, jika suatu kali terjadi kondisi pasar saham yang “merosot,” mereka dapat menjadi sangat panik, lalu berusaha menjual secepat mungkin saham-saham mereka, dan yang lain pun akan segera mengikuti. Pasar saham bisa benar-benar hancur karenanya. Jika itu terjadi, para analis memperkirakan, ia akan menjadi “kehancuran pasar saham paling besar dalam sejarah peradaban manusia.”

Kini renungkanlah, jika para pengamat telah membuat prediksi yang sedemikian kelabu, tentu para investor telah membuat ancang-ancang jauh-jauh hari sebelumnya untuk segera menarik investasinya dari tanah Amerika. Seakan-akan, wallahua’lam, Allah telah membuat “rencana” yang akan memaksa para investor itu untuk menarik modalnya keluar dari Amerika. Seakan-akan semua jalan telah terkunci bagi Amerika untuk melepaskan dirinya dari bom waktu raksasa yang terbentuk tanpa mereka sadari dan melekat tepat pada jantungnya.

Namun, di balik semua kengerian yang hendak mencengkeram dunia, ada kabar gembira yang menjadi konsekwensi kehancuran barat dan Amerika. Kembalinya khilafah rasyidah yang sesuai dengan manhaj nubuwah yang akan memimpin dunia dengan keadilan dan kebenaran merupakan janji yang pasti.

Maka, buku ini juga mengupas secara padat dan tuntas generasi umat Islam yang akan muncul sebagai pemimpin dunia, menggantikan peranan Amerika dan Barat; siapa, kapan, karakteristik dan sifat keistimewaan, langkah-langkah perjuangan dan hasil-hasil yang akan mereka capai. Sebuah penjelasan yang lengkap, berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai tinjauan sejarah dan fakta-fakta terbaru yang valid. Sungguh sebuah kajian yang obyektif, ilmiah, menarik, dan sangat berani!

Pada situs Grandfather Economic Report, Michael W. Hodges, America’s Total Debt Report-Update 2007 US$ 48 Trillion and Soaring.

. Pada situs CNN Money edisi 24 September 2005.

[3].Pada situs Financial Sense Online, edisi 11 Oktober 2005, Jennifer Barry, America Sinking Below The Waterline.

. Pada situs India Infoline, edisi 3 Desember 2005, Greenspan warns on US budget deficit.


Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa (Sebuah Pengantar)
Diarsipkan di bawah: Dunia Islam — alqoshiduun @ 7:29 am

Buku seri akhir zaman terbaru karya : Abu Fatiah Al Adnani dan Kelompok Telaah Kitab Ar-Risalah

Apabila di masa lampau, permusuhan Barat terhadap Islam dan kaum muslimin hanya berwujud dalam satu bentuk, yaitu perang fisik salibiyah (Crusades) yang berlangsung selama 200 tahun, maka pada masa-masa setelahnya hingga hari ini dan bahkan hingga masa-masa mendatang, permusuhan Barat memencar di dalam berbagai bentuk dan dalam segala bidang kehidupan, membuka jari-jemarinya menjangkau segala bagian yang ada.

Untuk meruntuhkan Daulah Utsmaniyyah yang saat itu menjadi benteng pembela dan penegak Islam yang menyatukan seluruh dunia Islam, bangsa-bangsa Nasrani Barat telah melancarkan berbagai makar dan konspirasi selama 6 abad. Selama masa lebih dari 150 tahun (1103-1256 H = 1695-1839 M), Barat beramai-ramai mengeroyok Daulah Utsmaniyah, dipimpin oleh empat negara super power dunia saat itu, yaitu Inggris, Perancis, Rusia, dan Autria. Usaha untuk mencabik-cabik dan meruntuhkan menara Islam ini akhirnya berhasil, melalui adu domba Daulah Utsmaniyah dengan bangsa Arab pada Perang Dunia I. Perang yang berakhir dengan perjanjian Versailles 1919 M itu, membagi-bagi wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyah untuk negara-negara dan mengizinkan tentara Sekutu menduduki Istambul.

Di samping melancarkan peperangan selama 6 abad melawan Daulah Utsmaniyah, Barat juga melancarkan peperangan kepada Islam dan kaum muslimin melalui 5 jurus maut, yaitu:

1. Orientalisme, yaitu usaha-usaha pengkajian dan penelitian terhadap Islam dan kaum muslimin, dengan tujuan menghancurkan Islam dari dalam.
2. Kristenisasi. Barat menjadikan koloniaslime dan imperalisme sebagai kendaraan awal bagi pengkristenan dan pemurtadan kaum muslimin. Setelah kaum imperialis Barat berhasil diusir dari dunia Islam, kristenisasi tetap dijalankan dan bahkan semakin intensif.
3. Kolonialisme dan imperalisme, dengan bergerak di lapangan politik penjajahan dan perebutan monopoli ekonomi. Inggris, Perancis, Spanyol, Portugis, Austria, Belanda, Italia, Rusia dan negara-negara Barat lainnya menjajah wilayah dunia Islam merampas harta kekayaannya, memperbudak dan memperbodohi kaum muslimin selama tak kurang dari 350 tahun.
4. Imperialisme kebudayaan, sejak dari paham sekulerisme sampai kepada paham atheisme dan komunisme, sejak dari paham kapitalisme liberal sampai kepada paham sosialisme. Budaya dan gaya hidup yang lepas dari tuntunan syariat, akal sehat, dan fitrah yang lurus diekspor secara halus dan paksaan, agar diadopsi oleh dunia islam.
5. Zionisme. Melalui bantuan Inggris, Perancis, Amerika, dan Rusia kaum Yahudi akhirnya merampas bumi Palestina dari tangan kaum muslimin, dan mendirikan negara Israel.

Kelima jurus maut Barat ini sampai saat ini tetap dipertahankan dan bahkan kuantitas dan kualitasnya senantiasa ditingkatkan Permusuhan Barat yang merepresentasikan peradaban Yahudi, Nasrani, komunis, dan paganis, terhadap dunia Islam ternyata tidak pernah surut. Justru, semakin hari semakin bertambah tebal, kuat, dan ganas. Apa yang saat ini mereka sebut sebagai ‘Perang Melawan Terorisme Global’, juga invasi militer ke Afghanistan dan Irak, hanya semakin mengkuatkan kebenaran dan kepastian realita ‘benturan antara kebenaran dan kebatilan’ yang telah ditegaskan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Perang dan permusuhan dunia Barat terhadap Islam dan kaum muslimin memang telah, sedang, dan akan senantiasa berlangsung. Baik duniua Barat diwakili oleh satu pihak maupun oleh banyak pihak, karena sejatinya kekafiran itu adalah agama yang satu.

Uni soviet yang mengusung komunisme memang telah runtuh. Amerika Serikat yang memimpin sekutu-sekutunya dari Eropa Barat, Australia, Jepang, dan Korea Selatan kini muncul sebagai satu-satunya negara super power dunia. Dengan kekuatan militer, politik, ekonomi, dan budaya yang dimilikinya, Amerika tampil mengangkangi segala negara dan lembaga di dunia, tak terkecuali PBB. Dengan leluasa, Amerika bisa melanggar peraturan PBB, tanpa ada seorang pun dan sebuah negara pun yang bisa mencegah dan menghukumnya.

Francis Fukuyama menyebutnya sebagai sebuah akhir dari evolusi sejarah. Perjalanan sejarah, menurutnya, kini telah berakhir dengan kemenangan demokrasi sebagai ideologi politik dan kapitalisme liberal sebagai ideologi ekonomi.

Benarkah demikian? Klaim Fukuyama ternyata banyak ditentang oleh para ilmuwan dan tokoh barat sendiri. Bernard Lewis dan Samuel Huntington memandang bahwa ‘clash of civilizations’ benturan peradaban (baca: pertarungan antara kebenaran dan kebatilan) akan tetap berlangsung. Setelah komunisme runtuh, musuh Barat berikutnya adalah Islam. Perbedaan yang mendasar antara ideologi, sejarah, dan karakteristik peradaban Islam dengan Barat, merupakan penyebab utama ditempatkannya Islam sebagai ‘musuh’ dari peradaban Barat.

Dari sini, perang melawan Islam dan kaum muslimin yang dikemas secara sistematis dan teorganisir dalam sandi ‘perang melawan terorisme global’ pun dicanangkan oleh AS dan diamini oleh lebih dari 95% negara anggota PBB, tak terkecuali sebagian besar negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Umat Islam yang ingin hidup berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah, diberi stempel ‘fundamentalis Islam’ dan ‘teroris Islam’ yang harus diburu dan dimusnahkan. Afghanistan dan Irak menjadi korban pertama umat Islam dari kebrutalan Barat.

Dalam suasana yang memprihatinkan seperti ini, banyak umat Islam sendiri yang merasa pesimis dengan masa depan Islam. Abad XV Hijriyah yang beberapa dekade sebelumnya diprediksikan oleh banyak tokoh Barat dan Islam sebagai masa kebangkitan Islam, Ash-Shahwah Al-Islamiyyah, akankah berakhir dengan tragis dan memilukan? Tidak adakah secercah harapan untuk kebangkitan umat Islam? Haruskah umat Islam mengekor dan menyerah kalah kepada Barat, dengan menerima demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme secara bulat, sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yang telah ter-Baratkan?

Berbeda dengan segelintir umat Islam yang pesimis tersebut, buku ini mempaparkan fakta dan harapan yang sebaliknya. Buku ini menguatkan keyakinan para tokoh umat Islam sebelumnya, seperti Syaikh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi, Sayud Qutub, Muhammad Qutub, Abdullah Azzam, dan banyak tokoh muslim lainnya. Keyakinan mereka akan masa depan Islam yang gemilang dan tampilnya Islam di panggung sejarah sebagai rahmatan lil-‘alamin, bukanlah sebuah utopia belaka. Keyakinan ini tumbuh dari nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menegaskan akan kembali berjayanya Islam dengan memimpin seluruh dunia, dan realitas peradaban Barat yang kini tengah sempoyongan.

Dalam buku ini, Penulis memaparkan fakta-fakta terbaru secara jelas dan rinci tentang kondisi proses kerusakan yang tengah dihadapi oleh Amerika dan sekutu-sekutunya dalam segala lini kehidupan. Sebuah penjelasan yang sangat memuaskan, tak terbantahkan, dan dibenarkan oleh para tokoh dan ilmuwan Amerika dan Eropa sendiri. Dikuatkan oleh banyak ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih keyakinan bahwa kemenangan Islam akan segera tiba, nampaknya sudah dipelupuk mata. Islam, secara pasti, akan mampu memenangkan benturan peradaban melawan super power kebatilan itu.

Namun, kapan kemenangan Islam dan keruntuhan Amerika itu akan terjadi? Siapakah gerangan umat Islam yang akan meretas jalan menuju kembalinya Islam ke pentas kepemimpinan dunia tersebut. Bagaimana karakteristik generasi baru harapan Islam tersebut? Bagaimana proses terjadinya peralihan kekuasaan di panggung dunia ini? Ilmu, amal, rencana, dan langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh untuk merealisasikan segala harapan dan keyakinan tersebut?

Anda, Insya Allah, akan menemukan jawaban dari segala pertanyaan di atas dan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan lainnya dalam buku yang sangat istimewa ini. Baca dan simaklah dengan seksama, niscaya Anda akan menemukan kepuasaan dan keyakinan yang prima.

No Response to "Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa"

Poskan Komentar

 
powered by Blogger